top of page
  • Writer's pictureWOW Ministry

7 ALASAN UNTUK MERAYAKAN ADVEN

RYAN SHELTON

Diterjemahkan oleh Margie Yang (@margieyang)

Saya tumbuh di sebuah gereja kecil yang tidak merayakan Adven. Sebelum sisa masakan kalkun lenyap dari kulkas, kami sudah sepenuhnya merayakan Masa Raya Natal hingga 25 Desember.


Saya berusia 20 tahunan ketika diperkenalkan pada tradisi Adven, dan sejujurnya tidak ada rasa tertarik yang muncul. Apa manfaat dari empat pekan yang penuh dengan penantian dan ekspektasi? Rasanya sangat kontradiktif dengan atmosfer perayaan dan kilau kegembiraan yang menguasai pusat-pusat perbelanjaan.


Namun, saya jadi mencintai Adven. Dan walaupun peringatan ini tidak diperintahkan Alkitab, ada berbagai alasan yang bermanfaat untuk patut dipertimbangkan menjadikan Adven bagian dari ritme perayaan ini. Berikut ini tujuh manfaat yang dapat kita peroleh dari merayakan Adven.



1. Adven mengingatkan bahwa kita bukanlah pusat dari rencana Allah.


Adven adalah kesempatan untuk mengembalikan perspektif kita bahwa Allah memiliki sebuah rencana agung dalam sejarah yang jauh lebih besar dari Anda dan kelompok Anda. Dengan semua penekanan pada berbagi hadiah dan rasa sentimental yang menjadi karakter dan budaya perayaan ini, kita cenderung terpaku pada lingkaran kecil pertemanan kita. Jadi di tengah perayaan yang mungkin dapat mengecilkan pandangan kita, Adven mengingatkan kita untuk menggeser fokus kita kembali pada jangkauan yang lebih besar akan maksud Allah bagi sejarah.


Sebelum dunia dijadikan, Allah menulis “kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih” (Wahyu 13:8), sebuah kisah yang mencapai puncaknya pada perkawinan Anak Domba dan pengantin-Nya (Wahyu 19:7). Betapa menakjubkan bahwa kita disertakan secara spektakuler dalam rencana agung ini, tetapi kita –secara individu– bukanlah karakter utama dalam kisah ini.


Ekspektasi Adven mengarahkan pandangan kita pada kisah yang lebih agung dari kecenderungan sentimental kita di masa Natal.



2. Adven mengingatkan akan generasi demi generasi dari umat kudus yang mendambakan Sang Mesias.


Beberapa waktu yang lalu, adalah sebuah kemewahan untuk menerima pembelian daring yang tiba di tangan kita dalam waktu dua hari saja. Sekarang, Anda bisa menerima pembelian hanya dalam hitungan jam saja. Apakah orang-orang modern bahkan mengenal arti mendamba, merindu, dan menanti?


Adven memberi kita kesempatan untuk membayangkan kedatangan Sang Mesias yang lama dinantikan, yang dijanjikan ribuan tahun sebelum kedatangan-Nya di Betlehem (Yohanes 8:56, Ibrani 11:13). Generasi demi generasi dari umat kudus memperoleh janji-janji dari Allah melalui Kitab Suci, dan berbagai tipologi yang meningkatkan kerinduan mereka pada Dia yang akan datang.


Ketika kita membayangkan diri kita dalam ekspektasi seperti ini, kita mulai melihat kilasan-kilasan akan bagaimana Yesus berharap murid-murid-Nya melihat nubuatan akan pelayanan-Nya dalam seluruh Kitab Suci (Lukas 24:27,44), dan bukan dari beberapa nubuatan yang terpisah-pisah. Dengan kerinduan yang seperti ini, halaman-halaman Kitab Suci Yahudi membisikkan tentang Yesus, mulai dari Kejadian hingga Tawarikh.



3. Adven menghubungkan kita pada tradisi gereja yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.


Tradisi gereja bukanlah otoritas tertinggi seperti Kitab Suci, tetapi kita bukanlah generasi pertama yang berupaya hidup setia pada firman Allah. Kita bersikap naif jika menutup mata dan menolak praktik yang telah menghasilkan buah bagi banyak anggota Kerajaan Allah.


Kita harus mengingat akan para pemimpin kita, dan menimbang hasil iman mereka (Ibrani 13:7), dan merayakan Adven adalah sebuah kesempatan untuk meneladani iman dari banyak pemimpin setia yang telah berjalan mendahului kita. Kita dapat menghindari apa yang C.S. Lewis sebut sebagai “kesombongan kronologis” dengan mengizinkan suara-suara dari para orang kudus yang bijak memberikan hikmat ke dalam konteks zaman kita.



4. Adven mengajak kita melambat di tengah masa yang amat sibuk.


Masa Natal, terutama di Barat, sepertinya bergerak menuju kegilaan. Black Friday sepertinya tidak bisa dibendung selama 24 jam saja, bahkan ketika para pembeli terlihat menjejali toko-toko ritel. Para pelajar sibuk dengan ujian akhir, para orang tua sibuk berbelanja hadiah, banyak keluarga sibuk melakukan perjalanan untuk mengunjungi kerabat – bahkan kalender sosial pun sangat padat merayap selama bulan Desember.


Adven memberikan kesempatan untuk memperlambat ritme kehidupan, atau bahkan bisa jadi membawanya untuk berhenti total. Ingatlah akan kesengajaan Allah. Ia menepati janji-Nya “setelah genap waktunya” (Galatia 4:4). Baik melalui bacaan harian, penyalaan lilin, maupun berbagai tradisi Adven lainnya, kita memutuskan untuk berhenti sejenak dan merenung dalam masa yang bisa saja menenggelamkan refleksi – dan berdiamlah.



5. Adven mengajarkan kesabaran.


Kesabaran adalah buah Roh Allah (Galatia 5:22). Meskipun buah itu karya-Nya, kita dapat mencari cara di mana Roh Allah dapat menumbuhkan kesabaran dalam hati kita.


Ketika kita merayakan Adven, Allah dapat menumbuhkan kesabaran dalam hati kita dengan menunjukkan bahwa Allah itu sabar, dan bukan karena Dia lambat (2 Petrus 3:9). Dengan mengingat kerinduan akan kedatangan Kristus yang pertama, kita melihat kemurahan Allah. Dia tidak tergesa-gesa untuk segera menghancurkan musuh-musuh-Nya dan menetapkan kemenangan kerajaan-Nya – yang akan menjadi teramat mulia.


Setiap saat kesabaran Allah dinyatakan menjadi kesempatan pertobatan bagi mereka yang seharusnya akan dihancurkan dalam kedatangan-Nya yang terakhir (Roma 2:4). Selama Adven, kita memandang kesabaran Yesus, dan dengan memandang-Nya, kita diubah lebih serupa dengan-Nya oleh Roh Allah (2 Korintus 3:18).



6. Adven menunjukkan “permata langka” ketidakpuasan kristiani.


Penulis Puritan Jeremiah Burroughs menulis "Permata Langka Kepuasan Kristiani." Dan memang, permata langka ini layak untuk ditumbuhkan, terutama mengingat adanya konspirasi massal dari iklan yang dirancang semata-mata untuk merampasnya dari kita. Namun, tidak semua ketidakpuasan harus ditolak.


Ketika kepuasan kristiani langka adanya di tengah lautan orang yang tidak puas, ketidakpuasan kristiani yang unik mungkin lebih langka. Bagaimana lagi hasil dari buah pertama Roh dapat merintih dalam batin (Roma 8:23)? Apa yang harus kita pikirkan tentang jiwa-jiwa para martir di bawah mezbah Allah yang berseru, "Berapa lama lagi, ya Tuhan?" (Wahyu 6:10)? Kita tidak perlu jauh mencari untuk menemukan alasan untuk tumbuh dalam ketidakpuasan yang benar terhadap dunia sekitar kita yang dirusak dosa, dan menaikkan ratapan kudus.


Adven dengan cara unik meneladankan hal ini dalam kalender kristiani, ketika kita mengingat seruan yang serupa menantikan kedatangan Kristus yang pertama, dan bergabung dengan nyanyian mereka untuk menyambut kedatangan (Kristus) yang kedua.



7. Adven meneguhkan keyakinan pada janji-janji Allah.


Akhirnya, penerapan terbaik dari Adven –sebuah masa pengenangan dan ekspektasi yang intens dan disengaja– mengarahkan kita pada kedatangan (adven) kedua Raja Yesus yang penuh kemuliaan.


Ketika kita merenungkan kesetiaan Allah pada janji-janji-Nya di masa lalu, kita diteguhkan dalam janji-janji yang masih kita nantikan. Yesus berkata bahwa Ia akan datang segera (Wahyu 22:12), dan meskipun konsep kita tentang “segera” mungkin memiliki ukuran yang berbeda dengan maksud Tuhan kita, Roh Kudus menguatkan iman kita dengan menyimak ketepatan kesetiaan Allah kepada orang-orang kudus pada zaman dahulu. Keyakinan akan kedatangan Kristus yang kedua menginspirasi misi (Matius 24:14), memampukan persekutuan kristiani dan peneguhan di dalamnya (Ibrani 10:25), dan memperlengkapi kita untuk bersukacita dalam penderitaan (Ibrani 10:34).



Jadi, jika Anda seperti saya, dan tidak tumbuh dengan tradisi Adven di keluarga atau gereja Anda, pertimbangkan berbagai manfaat ini bagi perjalanan kristiani Anda pada masa ini. Bergabunglah bersama banyak orang percaya yang telah menemukan manfaat besar dalam persiapan diri yang direncanakan selama Adven untuk menyambut perayaan besar Natal. Mari kita bergabung dengan suara-suara dari berbagai generasi umat kudus di masa lalu dan masa kini dalam nyanyian, "Oh datanglah, Imanuel."

69 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page